<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Welcome to my Blog</title>
	<atom:link href="http://bitha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bitha.wordpress.com</link>
	<description>Keberanian adalah melakukan apa yang kita takuti.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jun 2008 07:19:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bitha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e5be4fd9bf7a15abbdae00bca51b9b3f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Welcome to my Blog</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Penyiksaan dan Pengabaian Terhadap Anak</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 07:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Semua                         orang tua pasti sekali waktu merasa marah terhadap                       [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=25&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.kapanlagi.com/p/tv_violence.jpg" alt="" width="63" height="80" /><span style="font-style:normal;" lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Semua                         orang tua pasti sekali waktu merasa marah terhadap                         anaknya. Mengatasi perilaku anak memang bukan perkara                         mudah. Hanya dengan bilang “tidak” saja belum tentu                         dapat meredam sikap yang menjengkelkan tersebut. Dalam                         menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan                         tersebut banyak orang tua yang lepas kendali sehingga                         mengatakan atau melakukan sesuatu yang membahayakan anak                         sehingga kemudian mereka sesali. Jika situasi ini sering                         berulang, hal ini yang dikatakan sebagai penyiksaan anak,                         baik secara fisik maupun mental. Beberapa kriteria yang                         termasuk perilaku menyiksa seperti :</span></span></p>
<p><span id="more-25"></span></p>
<ul>
<li>
<p style="text-align:justify;margin:2px 20px 2px 18pt;"><span style="font-style:normal;" lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Menghukum                           anak secara berlebihan </span> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><span><span lang="IN">Memukul </span> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><span><span lang="IN">Menyulut                           dengan ujung rokok, membakar, menampar, membanting</span> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><span><span lang="IN">Terus                           menerus mengkritik, mengancam, atau menunjukkan sikap                           penolakan terhadap anak</span> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Pelecehan                           seksual </span> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Menyerang                           anak secara agresif </span> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin:2px 20px 2px 18pt;"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Mengabaikan                           anak; tidak memperhatikan kebutuhan makan, bermain,                           kasih sayang dan memberikan rasa aman yang memadai </span> </span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-right:20px;" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Menurut                         pendapat Vander Zanden (1989), perilaku menyiksa dapat                         didefinisikan sebagai <em><span style="color:#000080;"> suatu bentuk penyerangan secara                         fisik atau melukai anak; dan perbuatan ini dilakukan                         justru oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh non-keluarga)</span></em>.                         Menurut data penelitian diungkapkan bahwa penyiksaan                         secara fisik banyak dialami oleh anak-anak sejak masa                         bayi, dan berlanjut hingga masa kanak-kanak sampai                         remaja. </span> </span></p>
<p style="margin-right:20px;" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Lain                         lagi pendapat para psikiater yang terhimpun dalam                         Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di                         Inggris (1999). Mereka berpendapat, bahwa <em> pengabaian                         terhadap anak juga merupakan sikap penyiksaan namun                         lebih bersifat pasif</em>. Efek dari penyiksaan maupun                         pengabaian terhadap anak sama-sama mendatangkan akibat                         yang buruk. Untuk mengetahui lebih jelas apa dan sejauh                         mana dampak dari sikap orang tua yang demikian, Anda                         dapat melihat pada artikel kami tentang <em><a href="http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/dampak-penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/">dampak                         penyiksaan dan pengabaian orangtua terhadap anak.</a></em> </span> </span></p>
<p style="margin-right:20px;"><strong><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Pengabaian </span> </span> </strong><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><strong>T</strong><strong>erhadap </strong><strong>A</strong></span><strong><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">nak </span> </strong> </span></p>
<p style="margin-right:20px;" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Penyiksaan                         terhadap anak tidak terbatas pada perilaku agresif                         seperti memukul, membentak-bentak, menghukum secara                         fisik dan sebagainya, namun sikap orang tua yang                         mengabaikan anak-anaknya juga tergolong bentuk                         penyiksaan secara pasif. Pengabaian dapat diartikan                         sebagai ketiadaan perhatian baik sosial, emosional dan                         fisik yang memadai, yang sudah selayaknya diterima oleh                         sang anak. Pengabaian ini dapat berbentuk : </span> </span></p>
<ul>
<li><a href="http://www.e-psikologi.com/anak/Abused-1.htm"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Kurang<span> </span>memberikan perhatian dan kasih sayang yang                           dibutuhkan anak<br />
</span></span></a><em><span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Bayi                         yang dipisahkan dari orang tua akan mengembangkan                         perasaan tidak aman yang ditampilkan dalam gangguan                         kepribadian atau kesulitan/hambatan di dalam segi-segi                         kehidupannya yang menyebabkan munculnya masalah                         penyesuaian diri di masa yang akan datang. Bagaimana pun                         juga, pengasuhan yang memadai semasa bayi merupakan                         kebutuhan yang penting demi tercapainya pertumbuhan                         fisik dan psikis yang maksimal. Menurut Wenar (1991),                         ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya                         ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh akan                         menyebabkan perilaku yang menyimpang, karena dampak dari                         kehilangan tersebut sangatlah dirasakan sebagai suatu                         penolakan atau pun pengabaian.Dengan                         kapasitas pemahaman yang masih terbatas akan suatu                         peristiwa, sang anak akan menterjemahkan kejadian                         tersebut sebagai bentuk penolakan atas dirinya, ia                         merasa tidak cukup berharga sehingga tidak pantas untuk                         dicintai. Hal ini jika berlanjut tanpa sempat diperbaiki,                         akan menimbulkan masalah terutama dalam pembentukan                         identitas seseorang serta penyesuaian diri dalam                         kehidupannya di lingkungan</span></span></em></li>
</ul>
<ul>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin:5px 20px 2px 18px;"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Tidak                           memperhatikan kebutuhan makan, bermain, rasa aman,                           kesehatan, perlindungan (rumah) dan pendidikan </span> </span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin:5px 20px 2px 18px;"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Mengacuhkan                           anak, tidak mengajak bicara </span> </span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin:5px 20px 2px 18px;"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;">Membeda-bedakan                           kasih sayang dan perhatian antara anak-anaknya </span> </span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top:34px;"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><span><a href="http://www.e-psikologi.com/anak/Abused-2.htm"><span>Dipisahkan                           dari orang tua,</span></a> <span> jika tidak ada pengganti yang stabil dan memuaskan</span><span lang="IN"> </span></span></span><em><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><br />
Bayi                         yang dipisahkan dari orang tua akan mengembangkan                         perasaan tidak aman yang ditampilkan dalam gangguan                         kepribadian atau kesulitan/hambatan di dalam segi-segi                         kehidupannya yang menyebabkan munculnya masalah                         penyesuaian diri di masa yang akan datang. Bagaimana pun                         juga, pengasuhan yang memadai semasa bayi merupakan                         kebutuhan yang penting demi tercapainya pertumbuhan                         fisik dan psikis yang maksimal. Menurut Wenar (1991),                         ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya                         ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh akan                         menyebabkan perilaku yang menyimpang, karena dampak dari                         kehilangan tersebut sangatlah dirasakan sebagai suatu                         penolakan atau pun pengabaian. </span></span></em></p>
<p><em><span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dengan                         kapasitas pemahaman yang masih terbatas akan suatu                         peristiwa, sang anak akan menterjemahkan kejadian                         tersebut sebagai bentuk penolakan atas dirinya, ia                         merasa tidak cukup berharga sehingga tidak pantas untuk                         dicintai. Hal ini jika berlanjut tanpa sempat diperbaiki,                         akan menimbulkan masalah terutama dalam pembentukan                         identitas seseorang serta penyesuaian diri dalam                         kehidupannya di lingkungan</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin:5px 20px 2px 18px;">
</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=25&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kapanlagi.com/p/tv_violence.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dampak Penyiksaan Terhadap Anak</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/dampak-penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/dampak-penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 07:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Menurut                         berbagai lembaga penanganan terhadap anak-anak yang                         [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=24&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://kompas.co.id/data/photo/2008/02/29/154839p.jpg" alt="" width="84" height="64" /><span style="font-style:normal;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Menurut                         berbagai lembaga penanganan terhadap anak-anak yang                         mendapat perlakuan negatif dari orang tua, ada beberapa                         faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dampak atau efek                         dari penyiksaan atau pengabaian terhadap kehidupan sang                         anak. Faktor-faktor tersebut adalah :</span></span></p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<ul>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jenis                             perlakuan yang dialami oleh sang anak </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Seberapa                             parah perlakuan tersebut dialami </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sudah                             berapa lama perlakuan tersebut berlangsung </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Usia                             anak dan daya tahan psikologis anak dalam menghadapi                             tekanan </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Apakah                             dalam situasi normal sang anak tetap memperoleh                             perlakuan atau pengasuhan<span> </span>yang wajar </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Apakah                             ada orang lain atau anggota keluarga lain yang dapat                             mencintai, mengasihi, memperhatikan dan dapat                             diandalkan oleh sang anak</span></span></p>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;margin-top:18px;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Sementara                         itu penyiksaan dan atau pengabaian yang dialami oleh                         anak dapat menimbulkan permasalahan di berbagai segi                         kehidupannya seperti: </span></span></p>
<h4 style="margin-top:34px;"><a name="satu"><span style="font-family:Times New Roman;color:#000080;">Masalah                         Relational</span></a></h4>
<ul>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span style="font-style:normal;" lang="IN">Kesulitan                             menjalin dan membina hubungan atau pun persahabatan </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Merasa                             kesepian</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Kesulitan                             dalam membentuk hubungan yang harmonis</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Sulit                             mempercayai diri sendiri dan orang lain</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Menjalin                             hubungan yang tidak sehat, misalnya terlalu                             tergantung atau terlalu mandiri</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Sulit                             membagi perhatian antara mengurus diri sendiri                             dengan mengurus orang lain</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Mudah                             curiga, terlalu berhati-hati terhadap orang lain</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Perilakunya                             tidak spontan </span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Kesulitan                             menyesuaikan diri</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Lebih                             suka menyendiri dari pada bermain dengan                             kawan-kawannya</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Suka                             memusuhi orang lain atau dimusuhi </span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Lebih                             suka menyendiri </span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Merasa                             takut menjalin hubungan secara fisik dengan orang                             lain</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Sulit                             membuat komitmen</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Terlalu                             bertanggung jawab atau justru menghindar dari                             tanggung jawab</span></span></p>
</li>
</ul>
<h4><a name="dua"><span style="font-family:Times New Roman;color:#000080;">Masalah Emosional</span></a></h4>
<ul>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Merasa                             bersalah, malu</span><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Menyimpan                             perasaan dendam</span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Depresi</span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Merasa                             takut ketularan gangguan mental yang dialami orang                             tua</span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Merasa                             takut masalah dirinya ketahuan kawannya yang lain </span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Tidak                             mampu mengekspresikan kemarahan secara konstruktif                             atau positif</span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Merasa                             bingung dengan identitasnya</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN"> </span><span lang="IN">Tidak                             mampu menghadapi kehidupan dengan segala masalahnya</span></span></p>
</li>
</ul>
<h4><a name="tiga"><span style="font-family:Times New Roman;color:#000080;">Masalah Kognisi</span></a></h4>
<ul>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Punya                             persepsi yang negatif terhadap kehidupan </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Timbul                             pikiran negatif tentang diri sendiri yang diikuti                             oleh tindakan yang cenderung merugikan diri sendiri </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Memberikan                             penilaian yang rendah terhadap kemampuan atau                             prestasi diri sendiri </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Sulit                             berkonsentrasi dan menurunnya prestasi di sekolah </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Memiliki                             citra diri yang negatif</span></span></p>
</li>
</ul>
<h4><a name="empat"><span style="font-family:Times New Roman;color:#000080;">Masalah                         Perilaku</span></a></h4>
<ul>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Muncul                             perilaku berbohong, mencuri, bolos sekolah </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Perbuatan                             kriminal atau kenakalan </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Tidak                             mengurus diri sendiri dengan baik </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Menunjukkan                             sikap dan perilaku yang tidak wajar, dibuat-buat                             untuk mencari perhatian </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Muncul                             keluhan sulit tidur </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Muncul                             perilaku seksual yang tidak wajar </span></span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Kecanduan                             obat bius, minuman keras, dsb </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18px;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Muncul                             perilaku makan yang tidak normal, seperti anorexia                             atau bulimia</span></span></p>
</li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span lang="IN">Tidak                         semua anak akan memperlihatkan tanda-tanda tersebut di                         atas karena mereka merasa malu, atau takut untuk                         mengakuinya. Bisa saja mereka diancam oleh pelakunya                         untuk tidak membicarakan kejadian yang dialami pada                         orang lain. Jika tidak, maka mereka akan mendapatkan                         hukuman yang jauh lebih hebat. Tidak menutup kemungkinan,                         anak-anak tersebut justru mencintai pelakunya. Mereka                         ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak ingin                         pelakunya ditangkap atau dihukum, atau melakukan suatu                         tindakan yang membahayakan keutuhan keluarga.</span></span></p>
<p align="justify">sumber:e-psikologi</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=24&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/dampak-penyiksaan-dan-pengabaian-terhadap-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kompas.co.id/data/photo/2008/02/29/154839p.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perlukah Program Child Day-Care Bagi Anak?</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/perlukah-program-child-day-care-bagi-anak/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/perlukah-program-child-day-care-bagi-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 07:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Program                           Child Day-Care sudah mulai banyak dikenal di                      [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=23&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.soaringeagle.org/images/child_day_care.jpg" alt="" width="168" height="138" /><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pr</span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">ogram                           Child Day-Care sudah mulai banyak dikenal di                           Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya. Di Jakarta                           sendiri sudah beberapa tempat <em> day-care center</em> didirikan sejak beberapa tahun yang lalu, namun                           sifatnya lebih sebagai penitipan anak meskipun TPA (tempat                           penitipan anak) tersebut juga dilengkapi dengan                           berbagai permainan yang menarik dan ruangan yang                           didesain menarik untuk anak-anak.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span><em>Day-care center</em> sebenarnya bukan                           semata-mata tempat penitipan anak, namun seharusnya                           lebih menyediakan sarana atau fasilitas serta                           program-program yang disusun sedemikian rupa sehingga                           memungkinkan anak bereksplorasi dengan aman. Sayangnya,                           di Indonesia tidak banyak <em> day-care center</em> yang                           berkualitas dan punya fasilitas memadai sehingga bisa                           memberikan kesempatan yang terbaik bagi anak; atau pun                           jika ada, biayanya sangat mahal sehingga hanya                           kalangan terbatas saja yang mampu membayarnya</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Menurut Kagan, seorang ahli                           psikologi perkembangan, umumnya anak usia 4 bulan                           sampai dengan 29 bulan sudah bisa dimasukkan dalam <em> day-care center</em>. Sebab mulai dari usia kira-kira                           2,5                           tahun atau 3 tahun umumnya anak-anak tersebut sudah                           meningkat pada program <em>preschool</em>.</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Yang jadi pertanyaan utama, apakah                           memang sudah diperlukan untuk menitipkan anak atau pun                           istilah nya memasukkan anak dalam program <em> child                           day-care</em>? Apakah memang ada manfaat lebih dari                           program tersebut bagi anak Anda?</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Di Amerika, trend memasukkan anak                           dalam program tersebut sebenarnya lebih banyak                           dilakukan oleh para wanita yang bekerja sehingga                           mereka harus menitipkan anaknya. Di Indonesia sendiri,                           kecenderungan untuk memasukkan anak dalam program c<em>hild day-care</em> tampaknya sudah mengalami perubahan                           karena anak-anak yang mengikuti program bukanlah                           disebabkan karena ibunya harus bekerja sepanjang hari.                           Sekarang ini, memasukkan anak dalam program <em> child                           day-care </em> lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend                           atau mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada                           kebutuhan sebenarnya dari sang anak. Tidak jarang anak-anak                           tersebut dimasukkan oleh orang tuanya karena mereka                           tidak mau repot-repot untuk mendidik atau mengajari                           beberapa ketrampilan pada anak-anak mereka; atau                           karena para orang tua berpikir, semakin cepat                           dimasukkan ke <em> day-care</em> program, anak mereka akan                           semakin cepat pintar. Apakah persepsi demikian memang                           terbukti kebenarannya? Untuk melihat kebenarannya,                           mari kita perhatikan faktor-faktor yang harus Anda                           pertimbangkan sekaligus pendapat beberapa ahli sebelum                           memasukkan anak Anda dalam program <em> day-care.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kebutuhan                           dasar anak</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Di luar negeri                           sendiri pada umumnya orang tua memasukkan anak mereka                           dalam program child day-care dari usia 4 bulan ke atas,                           karena tuntutan bahwa ibunya harus mulai bekerja                           setelah melahirkan. Namun di Indonesia kebanyakan                           anak-anak yang mengikuti progam tersebut sudah pada                           usia yang cukup besar, sekitar 1 tahun ke atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Menurut salah seorang ahli                           psikologi perkembangan yaitu Erik Erikson, kebutuhan                           dasar anak pada masa bayi (baru lahir) sampai dengan                           kurang lebih 1 tahun adalah kebutuhan yang bersifat                           biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis, seperti                           makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan.                           Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman,                           merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan                           untuk dilindungi. Untuk itu lanjut Erikson, diperlukan                           figur orang tua dan pola pengasuhan yang konstan dan                           stabil sehingga sang anak bisa mempercayai dan                           meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi                           kebutuhannya. Jika ternyata dalam prosesnya terjadi                           hambatan yang menyebabkan hubungan antara keduanya                           terganggu, misalnya karena orang tua meninggal,                           terlalu sibuk, sakit, atau situasi apa pun yang                           menyebabkan terpisahnya hubungan antara anak dengan                           orang tuanya, maka sang anak akan berpikir bahwa                           dirinya tidak lagi dicintai. Anak berpikir begitu                           karena pola pikir mereka yang masih <span style="text-decoration:underline;">egosentris</span>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Masalahnya, anak yang tidak                           mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang konstan di                           tahun pertama kehidupannya, dalam diri anak tersebut                           akan tumbuh <em>basic mistrust</em>. Ia akan merasa                           kurang percaya diri (karena dia menghadapi kenyataan                           berdasarkan persepsinya bahwa dirinya ditolak atau pun                           diabaikan) dan kurang dicintai oleh orang tuanya. Anak                           tersebut juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit                           mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia tidak                           menerima kehadiran orang tua yang konstan, stabil dan <em>predictable. </em>Ketidakmampuan untuk mempercayai baik diri sendiri                           maupun orang lain berpotensi menjadi masalah di                           kemudian hari jika persoalan ini tidak diselesaikan                           sejak dini. Sebagai contoh tanda-tanda anak yang tidak                           mengalami kedekatan yang stabil dengan orang tua                           sehingga dalam dirinya tidak tumbuh <em>basic trust</em> seperti : </span></span></p>
<blockquote>
<ol style="font-size:12pt;margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Takut atau tidak mau ditinggal sendirian, harus                                 selalu <em>nempel</em> orang tua </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Lebih suka menyendiri dari pada bermain bersama                                 teman-teman yang lain </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Kurang percaya diri, minder </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Tidak berani keluar rumah </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Takut terhadap orang asing, jika didekati                                 langsung menangis atau menarik diri </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Bisa jadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa                                 waktu ditinggal orang tua karena sudah biasa                                 ditinggal, atau bahkan tidak ingin dipeluk atau                                 didekati ibunya sendiri </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Terlalu sering menangis / cengeng, mudah                                 ketakutan, mudah cemas </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Dalam perkembangan usia selanjutnya, berpotensi                                 mengalami masalah dalam pelajaran / sekolah,                                 entah karena kesulitan belajar, hambatan                                 intelektual, atau pun hambatan interaksi sosial                                 dengan teman-temannya</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></li>
</ol>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Jadi,                           sebelum Anda memasukkan anak Anda ke dalam program <em> child day-care</em>, haruslah diperhatikan apakah anak Anda                           memperlihatkan salah satu atau beberapa dari                           tanda-tanda di atas. Jika ternyata Anda menemukan                           adanya kecenderungan demikian, ada baiknya jika Anda                           mempertimbangkan kembali niat Anda untuk memasukkan                           anak Anda dalam program <em> child day-care</em>. Sebab,                           bukannya anak Anda menjadi pintar dan pandai bergaul,                           malah menjadi penakut dan punya segudang masalah.                           Selain itu, ada baiknya Anda memperhatikan pendapat                           para ahli terhadap program <em> child day-care</em> tersebut di                           bawah ini. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Pandangan                           para ahli terhadap <em> child day-care</em></strong></span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0;margin-left:18pt;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Banyak kritikan yang dilontarkan terhadap program                             <em> day-care                             center</em> tersebut dengan dasar, bahwa setiap anak                             membutuhkan perhatian dan penanganan yang stabil,                             kontinyu, dan dapat diprediksikan. Menurut pandangan                             psikoanalisa, kebutuhan akan kasih sayang yang                             intensif dan stabil hanya diperoleh dalam hubungan                             antara anak dengan sang ibu/pengasuh utama; dan hal                             itu dialami dalam setahun pertama kehidupan anak                             tersebut. Salah seorang ahlinya yaitu Fraiberg                             (1977) mengemukakan, bahwa dalam <em> day-care center</em> tersebut, setiap anak harus mau tidak mau menerima                             perhatian yang tidak penuh karena sang pekerjanya                             harus membagi waktu dan perhatian pada anak-anak                             yang lain. Belum lagi kalau pada saat pertengahan                             program, si pekerjanya keluar dari pekerjaan dan                             digantikan dengan orang baru. Mungkin saja hal ini                             tidak diperhitungkan oleh orang tua; padahal, bagi                             anak hal ini menjadi faktor penting karena sejak                             usia dini sang anak belajar membangun kepercayaan                             terhadap seseorang sampai hubungan tersebut stabil.                             Namun jika justru yang dihadapi adalah situasi yang                             tidak pasti, selalu berubah dan <em>unpredictable,</em> maka akan sulit bagi si anak untuk belajar                             menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya. Tidak heran                             jika di kemudian hari, ia menerapkan pola pertemanan                             yang <em>hit and run</em>, atau pun <em>solitaire</em> sebagai antisipasi jika dirinya sewaktu-waktu                             ditinggalkan dan dikecewakan. Salah                             satu fakta yang ironi mengungkapkan, bahwa orang tua                             yang sering terlalu sibuk bekerja enggan atau kurang                             tertarik untuk memperhatikan masalah-masalah yang                             dihadapi anak-anak mereka; padahal, sebenarnya                             anak-anak tersebut sedang benar-benar membutuhkan                             kasih sayang orang tua. Jadi, jika karena alasan                             orang tua tidak sempat mendampingi dan memperhatikan                             anak sehingga dititipkan pada institusi seperti <em> chid                             day-care center,</em> tetap tidak menyelesaikan masalah,                             malah menambah kerumitan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Kagan, seorang psikolog perkembangan melakukan                             penelitian melalui eksperimen yang dilakukannya                             sendiri dan menemukan, bahwa ternyata anak-anak yang                             dititipkan pada d<em>ay-care center</em> (meskipun sudah                             ditangani secara intensif oleh orang-orang yang                             berkompeten, dan dengan rasio perbandingan 1                             pengasuh berbanding 3 atau 4 orang anak), memiliki                             kapasitas intelektual, emosional dan sosial yang                             tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang diasuh dan                             dibesarkan semata-mata dalam lingkungan rumah/keluarga                             (tidak ikut program child-care). Malahan dari                             penelitian itu ditemukan, bahwa pada usia 29 bulan,                             anak yang dibesarkan hanya dalam lingkungan rumah,                             terlihat punya kemampuan adaptasi sosial yang lebih                             baik dibandingkan anak-anak<span> </span>yang<span> </span>dibina                             dalam d<em>ay-care center.</em> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Bagi orang tua, pemilihan                             <em> day-care center</em> juga                             harus menjadi bahan pertimbangan penting karena                             harus melihat kualitas dari pengasuhan dan failitas                             yang tersedia. Oleh karena itu, banyak ahli                             berpandangan memasukkan anak dalam <em> day-care center</em> akan banyak menghabiskan biaya, namun tidak seimbang                             dengan kualitasnya. Selain itu, sulit menemukan <em> day-care center</em> yang benar-benar sesuai dengan                             kebutuhan setiap anak yang punya problem                             berbeda-beda pada masanya dan yang menuntut                             penanganan yang spesifik pula. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan juga                             perlu menjadi bahan pertimbangan, karena di situ                             berkumpul banyak anak-anak yang mungkin saja                             mempunyai penyakit tertentu yang mudah menular pada                             anak lain, seperti flu, hepatitis, diare, distentri,                             dll. Kemungkinan besar, tidak semua pengasuh atau                             pun pekerja di <em> day-care center</em> tersebut dibekali                             dengan latihan dan pengetahuan yang memadai tentang                             kesehatan, kebersihan, penyakit dan penanganannya.                             Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan pola                             perilaku anak yang masih tidak karuan dan masih                             belum bisa diatur. Jadi, dalam <em> child day-care</em>, akan                             besar kemungkinannya bagi setiap anak untuk terkena                             atau tertular penyakit. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Penelitian yang dilakukan oleh Laurence D.                             Steinberg dan Jay Belsky beberapa tahun yang lalu                             menemukan bahwa ternyata pengalaman atau pun                             bimbingan yang diberikan selama berlangsungnya <em>day-care</em>, tidak menghambat atau pun mendorong                             perkembangan intelektual anak. Namun, memang <em> day-care</em> terbukti dapat menolong anak-anak dari                             golongan ekonomi lemah atau pun lingkungan yang                             beresiko tinggi dari penurunan IQ akibat dari                             penanganan/pendidikan yang tidak memadai. Lebih                             lanjut penemuan mereka juga membawa fakta, bahwa                             anak-anak yang ikut serta dalam program <em>day-care</em>,                             akan memperlihatkan peningkatan interaksi, baik                             dalam bentuk positif maupun negatif dengan                             teman-teman mereka. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Penelitian yang dilakukan oleh Belsky di tahun                             1984 menemukan bahwa bayi yang menghabiskan                             rata-rata sebanyak 20 jam seminggunya dalam program                             pengasuhan <em> non-maternal</em> (seperti halnya <em>day-care</em>)                             selama tahun pertama kehidupannya, beresiko tinggi                             mengalami <em>insecure attachment</em> terhadap sang                             ibu dan peningkatan agresivitas, ketidaktaatan, atau                             bahkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan                             sosial pada saat mereka memasuki tahap <em>preschool</em> dan sekolah dasar. Namun perlu ditekankan, bahwa                             situasi demikian tidak berlaku bagi anak yang                             usianya 1 tahun ke atas. Belsky berpandangan,                             bagaimana pun juga, <em> preschool</em> yang benar-benar                             berkualitas memang memberikan kontribusi secara                             positif pada perkembangan anak. </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="text-indent:0;margin-left:18pt;margin-top:8px;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Salah satu penelitian yang dilakukan di Amerika                             menampilkan salah satu faktanya, bahwa anak-anak                             yang diikutsertakan dalam program day care dalam                             rentang waktu yang cukup lama menunjukkan                             peningkatan agresivitas terhadap sesama dan terhadap                             orang dewasa, dan menunjukkan penurunan sikap                             kooperatif terhadap orang dewasa. </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</li>
</ol>
<div>
<p style="margin-left:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><span>Dari berbagai pandangan di atas,<span> </span>dapat disimpulkan bahwa kebanyakan peneliti                           masih berpendapat bahwa <em> day-care</em> yang benar-benar                           berkualitas memang dapat menjadi alternatif program                           pengasuhan terhadap anak-anak. Adapun pengaruh dari                           day-care tergantung dari kualitas, lamanya waktu                           keikutsertaan, serta kualitas yang sebenarnya terjalin                           antara anak dengan orang tua di luar waktu day-care.                           Jadi, bagi Anda yang hendak mengikutsertakan anak Anda                           dalam program <em> day-care center</em>, cobalah perhatikan                           dengan seksama, apakah sesuai dengan kebutuhan yang                           sedang dihadapi oleh sang anak, dan apakah memang                           benar-benar dibutuhkan, dalam arti bukan karena                           semata-mata mengikuti mode saja. Selain itu, faktor                           kebersihan dan keamanan juga selayaknya menjadi bahan                           pertimbangan mengingat di Indonesia masih mudah                           terjadinya penularan penyakit-penyakit “aneh” yang                           sampai saat ini masih sulit ditangani secara cepat                           oleh para medis. Keberadaan ahli gizi, tim medis dan                           psikolog dalam day-care center bisa menjadi nilai                           tambah yang sangat bermanfaat untuk memonitor                           perkembangan anak Anda. (<strong>jr</strong>)</span></span></p>
<p style="margin-left:0;" align="justify">sumber:<a href="http://www.e-psikologi.com/anak/day-care.htm" target="_blank">e-psikologi</a></p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=23&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/perlukah-program-child-day-care-bagi-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.soaringeagle.org/images/child_day_care.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anak Pemalu</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/anak-pemalu/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/anak-pemalu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 07:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Ibu                         Heny sangat terpesona dengan Dendi, anak tetangganya                        [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=21&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://kingdomboundbooks.com/blog/detroit_ashame_r.jpg" alt="" width="108" height="88" /><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:x-small;"><span lang="IN"><em>Ibu                         Heny sangat terpesona dengan Dendi, anak tetangganya                         yang baru berumur 3 tahun. Dendi adalah seorang anak                         yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah                         takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang                         yang baru dikenalnya. Kondisi tersebut sangat kontras                         jika dibandingkan dengan Adie (3 tahun), anaknya Ibu                         Heny. Setiap kali bertemu orang baru Adie selalu ingin terus-menerus berada                         dekat orangtuanya, menyembunyikan diri di balik rok                         ibunya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak                         mata.  Situasi ini sangat membingungkan ibu Heny                         dan tidak jarang ia menjadi malu dan sedikit &#8220;jengkel&#8221;                         dengan perilaku anaknya.<br />
</em></span></span></p>
<p><span id="more-21"></span><br />
<strong> Apakah Pemalu Itu</strong></p>
<p>Para ahli nampaknya memiliki beberapa pandangan yang berbeda tentang perilaku pemalu (shyness). Ada ahli yang mengatakan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri</p>
<p>Kecenderungan menarik diri ini sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita dapat melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati orang atau tidak mau untuk dipegang. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan diri mereka berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal.</p>
<p>Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:</p>
<p>1.menghindari kontak mata;</p>
<p>2.tidak mau melakukan apa-apa;</p>
<p>3.terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);</p>
<p>4.tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti &#8220;ya&#8221;, &#8220;tidak&#8221;, &#8220;tidak tahu&#8221;, &#8220;halo&#8221;;</p>
<p>5.tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;</p>
<p>6.tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;</p>
<p>7.mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;</p>
<p>8.menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);</p>
<p>9.mengalami psikosomatis;</p>
<p>10.merasa tidak ada yang menyukainya.</p>
<p>Swallow juga menyatakan adanya beberapa situasi dimana seseorang (pemalu maupun tidak) akan mengalami rasa malu yang wajar dan lebih dapat diterima, yaitu:</p>
<p>1.bertemu dengan orang yang baru dikenal;</p>
<p>2.tampil di depan orang banyak;</p>
<p>3.situasi baru (misalnya sekolah baru, pindah rumah baru).</p>
<p><strong>Dampak Sifat Pemalu</strong></p>
<p>Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang. Misalnya, ketika berada di rumah teman/tetangga, anak ingin buang air kecil tetapi malu minta ijin ke toilet, sehingga menahan keinginan buang air yang akhirnya berakibat sianak malah mengompol.</p>
<p>Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.</p>
<p><strong>Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?</strong></p>
<p>Tanpa mengabaikan pendapat bahwa pemalu merupakan bawaan/karakter terberi atau bukan, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa lingkungan memegang peranan penting terhadap sifat pemalu ini.  Anak akan semakin pemalu ataukah justru dapat mengatasi sifat pemalu ini, tergantung dari apakah lingkungannya (baca: orangtua) terus-terusan melindungi anak pemalu atau mendorongnya untuk mau menghadapi dunia luar sehingga anak menjadi lebih percaya diri.</p>
<p>Idealnya orangtua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Namun di lain pihak orangtua diharapkan untuk memampukan anak dalam mengatasi rasa malu sehingga anak merasa kompeten, percaya diri, berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya dan megurangi masalah yang mungkin timbul sebagai akibat sifat pemalu. Seorang anak yang pemalu, tidak terus-terusan merasa malu dalam setiap situasi hidupnya. Ada situasi-situasi tertentu yang dapat membuatnya merasa percaya diri.  Biasanya situasi tersebut adalah ketika anak  sedang bersama orangtua ataupun anggota keluarga yang ditemuinya setiap hari (tanpa kehadiran orang baru/asing) atau situasi yang stabil/rutin dilalui anak. Kalau orangtua dari awal sudah mengetahui anaknya pemalu dan ingin mendorongnya agar mampu mengatasi rasa malu tersebut, maka sebaiknya dari awal itulah usaha orangtua sudah dilakukan. Usaha orangtua sebaiknya merupakan usaha yang bertahap, hari demi hari sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian menampakkan hasilnya, seperti kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.</p>
<p>Orangtua sebaiknya mendorong anak untuk berani keluar  dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba (drastis). Misalnya ketika orangtua sudah mencapai titik jenuh melindungi anaknya terus-menerus dan bingung melihat anaknya sampai usia sekian tahun masih tidak mau bergaul dengan anak tetangga, lalu dengan tiba-tiba melepaskan si anak dan mengatakan &#8220;ayo dong Adie, sekarang kamu sudah besar, kamu sekarang sudah harus berani, ayo sana bermain play station ramai-ramai dengan Deni di rumahnya&#8221;. Perubahan sikap orangtua yang seperti ini bisa menjadi tekanan tersendiri buat si anak, karena yang biasanya aman dalam lindungan orangtua, tiba-tiba orangtua berubah melepaskan dan &#8220;tidak mau melindungi&#8221;. Mendorong anak (encourage) tidak sama dengan memaksa (push), usaha yang tiba-tiba bukanlah mendorong, tetapi memaksa. Perasaan terpaksa akan membuat keadaan bertambah buruk karena anak ditempatkan pada keadaaan yang melebihi batas toleransinya, sehingga anak bisa jadi malah semakin menarik diri.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak mengatasi rasa malu, yaitu:</p>
<p>1.Orangtua sebaiknya tidak mengolok-olok sifat pemalu anak ataupun memperbincangkan sifat pemalunya di depan anak tersebut. Contohnya dengan mengatakan &#8220;kamu sih pemalu&#8221;,&#8221;iya loh Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, sampai repot saya kadang-kadang&#8221;, dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak dapat merasa tidak diterima sebagaimana dia adanya.</p>
<p>2.Mengetahui kesukaan dan potensi anak, lalu mendorongnya untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko ia menginginkan mobil berwarna merah, sementara yang tersedia berwarna biru, maka anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia menginginkan mobil yang berwarna biru.</p>
<p>3.Sebaiknya orangtua secara rutin mengajak anak untuk berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.</p>
<p>4.Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 diatas, anak belum tentu berani untuk berbicara pada pelayan toko sekalipun didampingi, maka ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.</p>
<p>5.Jadilah contoh buat anak, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.</p>
<p>Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap  mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu (anak main bersama temannya tapi dia tahu orangtuanya ada dan tidak meninggalkan seorang diri). Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.(jp)</p>
<p>sumber:<a href="www.e-psikologi.com" target="_blank">e-psikologi</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=21&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/anak-pemalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kingdomboundbooks.com/blog/detroit_ashame_r.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PSIKOTES: KEBENARAN, KEKUASAAN</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/psikotes-kebenaran-kekuasaan/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/psikotes-kebenaran-kekuasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 06:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa pertanyaan yang saya ingat, antara lain: “Di manakah Brazilia?”, “Di Manakah Buenos Aires?”, “Apakah Vatikan itu?”.Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun 1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes yang wajib [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=20&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://detik4.files.wordpress.com/2008/04/naskah.gif?w=81&#038;h=88" alt="" width="81" height="88" />Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa pertanyaan yang saya ingat, antara lain: “Di manakah Brazilia?”, “Di Manakah Buenos Aires?”, “Apakah Vatikan itu?”.Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun 1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun kemudian, ketika saya masuk Fakultas Psikologi, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada salah satu tes ketika mengikuti sebuah mata kuliah yang mengajarkan berbagai tes.</p>
<p><span id="more-20"></span></p>
<p>Saat ini, di tahun 2005, saya masih menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan dilakukan di sejumlah sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah ironi yang menyedihkan, orang-orang yang menggunakan tes itu seolah menganggap bahwa sang waktu telah membeku. Lebih menyedihkan lagi orang –orang yang mengerjakan tes itu, kemanusiawian mereka terpasung oleh pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka, padahal itu adalah pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun.<span class="fullpost"><br />
Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa menafikkan perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona, bintang-bintang sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela adalah hal-hal yang jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, bagaimana pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita tahu bahwa psikotes tak jarang menentukan “nasib” seseorang. Dalam dunia kerja, seseorang bisa tidak diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan akibat hasil psikotes. Seorang siswa bisa dikategorikan bodoh, terbelakang, dan berbagai label lain, karena hasil psikotes.<br />
Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes. Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis kemampuan menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara parsial juga ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan kursus-kursus seperti Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri, sebelum sampai pada semua permasalahan ini, masih menyimpan problem internal berkaitan dengan adaptasinya pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang digunakan sebagai psikotes, masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang menggunakan gambar seperti TAT misalnya, sebagian menggunakan latar situasi (bangunan, pakaian, pemandangan) yang asing untuk Indonesia.<br />
Kebenaran<br />
Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk “mengkategorikan” kemampuan anak didiknya. Baru-baru ini, saya dengar bahwa jenjang pendidikan setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan murid. Kita juga bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan psikotes untuk menerima, memutasi atau memberhentikan karyawan. Bahkan, ketika saya menulis artikel ini, ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah (Pilkada) juga menggunakan psikotes sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui para calon kepala daerah. Dengan begitu banyak kelemahan dalam hal validitas, ternyata psikotes masih juga ditempatkan sebagai “kebenaran” dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran yang menjadi acuan bagi keputusan akan nasib dan penilaian terhadap kemampuan manusia. Lebih jauh, kebenaran ini dapat pula mentaksonomi manusia, menempatkannya dalam hirarki kualitas yang akan menentukan nasib dan hidupnya.<br />
Pada suatu titik; psikotes membuat manusia tak lebih dari sekedar angka. Manusia kehilangan keunikan diri, segala kelebihan yang hanya dimiliki oleh dirinya sebagai pribadi unik [dan satu-satunya di dunia] akan hilang oleh kriterium psikotes. Manusia telah dimasukkan dalam penyeragaman yang membuatnya tak lebih dari kerumunan; bahkan, sampai batas tertentu menjerat manusia dalam jejaring kekuasaan. Nasibnya, berada di bawah kekuasaan orang lain yang memiliki modal tertentu. Kemanusiaannya ditentukan oleh interpretasi psikologis yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki lisensi. Saya ulangi lagi, “memiliki lisensi”; artinya tidak sama dengan memiliki kemampuan. Memiliki lisensi, belum tentu memiliki kemampuan, tapi dalam “wacana psikotes” antara “memiliki lisensi” dan “memiliki kemampuan” kerap ditumpangtindihkan. Lebih jauh, kepemilikan akan lisensi itu sendiri, telah menjadi bagian dari kekuasaan ketika lisensi itu hanya bisa dikeluarkan oleh aparatus tertentu.<br />
Lisensi untuk menginterpretasi dan menentukan nasib orang ini, hanya bisa diperoleh ketika seorang sarjana psikologi mengikuti pendidikan profesi yang diadakan oleh sejumlah fakultas Psikologi. Bagi angkatan 1992 dan sebelumnya, lisensi ini bisa diperoleh melalui pelatihan diagnostik yang diadakan oleh organisasi profesi, dalam hal ini Himpsi. Sampai di sini, program profesi psikologi maupun Himpsi, adalah ‘aparatus’ yang memiliki kekuasaan untuk melegitimasi kebenaran psikotes melalui penyelenggaraan pendidikan yang akan menghasilkan lisensi-lisensi yang dipertukarkan dengan hak menginterpretasi psikotes. Apapun hasilnya, jika psikotes telah diinterpretasi mereka yang memegang lisensi, akan ditempatkan sebagai kebenaran. Akhirnya, dalam wacana psikotes, psikologi menjadi tak lebih dari ilmu yang sifatnya tekstual ketimbang kontekstual. Pada sisi tertentu, psikologi telah jaut ke dalam bentuk ‘pertukangan’ yang hanya mengoperasikan alat-alat tes.<br />
Inilah yang dijelaskan Pierre Bourdieu sebagai kekuasaan yang beroperasi melalui modal simbolik. Angka-angka dalam psikotes menjadi modal simbolik. Lisensi menggunakan alat-alat psikotes adalah modal simbolik. Gelar psikologi adalah modal simbolik. Keanggotaan Himpsi adalah modal simbolik. Modal ini berguna untuk mendominasi orang lain, melegitimasi dan memapankan posisi sendiri. Dalam pembahasan Bourdieu, sebenarnya dicermati kenyataan bahwa kekuasaan beroperasi dan menyembunyikan diri melalui budaya. Dalam konteks ini, kita mencermati kekuasaan yang beroperasi dalam “budaya akademis”. Kelompok terdominasi adalah kumpulan individu-individu yang menerima begitu saja (taken-for-granted) terhadap konstruksi-konstruksi yang ditawarkan oleh kelompok pendominasi. Agar kelompok yang didominasi menerima begitu saja, maka kelompok terdominasi harus memiliki modal yang mampu melegitimasi dominasinya melalui penaklukan moral dan intelektual kelompok terdominasi. Modal adalah hal-hal yang dalam kebudayaan merupakan suatu yang diyakini penting.<br />
Dalam psikotes, orang menjadi tak lebih dari angka-angka. Nasib orang dan bagaimana orang itu digambarkan ditentukan oleh angka yang dimilikinya. Sedangkan dalam wacana pendidikan, kita menemukan pula bahwa sistem pendidikan pun meredusir manusia sebatas angka. Angka membuat orang dapat dikategorikan bodoh, pintar, juara, rangking, cum laude, summa cum laude, teladan, dll. Banyak orang menerima begitu saja bahwa dirinya bodoh hanya dengan patokan angka itu. Orang jadi tidak mengenali diri dan segala keunikan yang dimiliki. Sebaliknya, mereka yang oleh angka-angka itu dinobatkan sebagai makhluk-makhluk exellent, menerima begitu saja tanpa pernah merefleksikan kelayakan dirinya. Situasi seperti ini menjadi titik berangkat beroperasinya kekuasaan.<br />
Psikotes yang diyakini sebagai kebenaran ini persis seperti apa yang digambarkan oleh Jacques Lacan seperti bayi yang melihat melihat bayangan dirinya di cermin (image), ia berpikir bahwa itu adalah dirinya. Tetapi sebenarnya bukan, itu hanya image. Tetapi orang lain (ibu) meyakinkan bahwa bayangan dalam cermin itu adalah dirinya. Pengidentifikasian diri ini disebut misrecognition, ketika bayi melihat bayangannya di cermin, ia berpikir bahwa bayangan (image) itu adalah dirinya. Sehingga Lacan berpendapat bahwa ego atau self atau “I”dentity merupakan fantasi, karena proses pengidentifikasian berasal dari eksternal image dan bukan internal. Seperti ini pula yang terjadi pada orang-orang yang meyakini hasil psikotes. Pada titik ini, orang justru jatuh ke dalam kolam citraan dan teralienasi dari dirinya sendiri. Ia mengambil begitu saja citraan yang dilekatkan orang atas dirinya dan membiarkan dirinya berada di bawah kekuasaan orang lain yang menentukan “kenormalan” dirinya, kelayakannya untuk dapat diterima sebagai anggota suatu komunitas.<br />
Kekuasaan<br />
Foucault mengatakan bahwa “kekuasaan yang menormalisir” tidak hanya dijalankan dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan, dan kesejahteraan. Kekuasaan dalam pandangan Foucault disalurkan melalui hubungan sosial yang memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagai baik atau buruk, dalam upaya pengendalian perilaku. Relasi sosial itulah yang memproduksi bentuk pemahaman subjektif atas perilaku dalam kompleksitas yang dihadirkan sebagai bentuk restriksi. Dengan demikian, manusia menjadi layak untuk ditundukkan bukan dengan cara kontrol yang bersifat langsung dan fisik, tetapi melalui wacana dan mekanisme, prosedur, aturan, tata cara dan sebagainya.<br />
Foucault menganalisa keterkaitan antara kekuasaan, pengetahuan, dan diskursus yang berkembang pada kemapanan penjelasan berdasar rasionalitas; yang hadir secara progresif dan telah diyakini banyak orang; sehingga memfungsikannya sebagai normalisasi yang menyeragamkan. Kita dapat melihat ini pada begitu banyaknya orang yang mempercayai begitu saja psikotes. Ini membuat intrepretasi-interpretasi psikologis diterima begitu saja sebagai penjelasan atas kemampuan seseorang. Pada titik ini, orang dipaksa untuk berada pada keseragaman kriterium penilaian yang telah dimapankan sebagai penjelas kualitas manusia. Kemapanan penjelasan inilah yang kemudian menjadi kerangka kerja rasional-empiris yang diletakkan sebagai basis dari segala kebenaran dan pengetahuan. Hegemoni penjelasan yang diletakkan di atas rasionalitas dan diinstitusi ini; memarjinalisasi diskursus lain serta mencipta dan memvalidasi suatu jaringan kekuatan sosial yang sifatnya normatif dengan mengedepankan disiplin serta pembatasan pemikiran individu hanya pada ranah mikrolevel.<br />
Hasil psikotes, meminjam istilah Jorge Luis Borges, lebih berfungsi sebagai peta yang mendahului daerah (peta a teritori) ketimbang daerah yang menjadi acuan membuat peta (teritori a peta). Orang akan cenderung mengafirmasi dan memperlakukan orang lain berdasarkan hasil psikotes. Apalagi, hasil psikotes, kebanyakan justru tidak diketahui oleh pribadi yang menjalani tes. Hasil-hasil psikotes, kebanyakan dipegang oleh HRD atau guru BP. Dalam cara pandang Foucault kita menempatkan psikotes dan penggunaannya sebagai wacana; ini berarti psikotes tak hanya yang memuat serangkaian kata atau proposisi dalam teks, tetapi juga sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain (sebuah gagasan, konsep, atau efek). Lebih kontekstual, kita dapat menempatkan psikotes sebagai wacana yang dapat dideteksi; karena secara sistematis, suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu. Psikotes, tak lepas dari wacana ilmu sosial; di mana psikologi sebagai salah satu cabangnya, membentuk suatu konsep yang mentaksonomi manusia dalam berbagai kategori. Klaim kebenaran yang diatasnamakan sains, membuat psikotes berubah menjadi alat kekuasaan, terutama ketika orang kerap percaya begitu saja taksonomi yang muncul dari perangkat ini.<br />
Taksonomi “ke-manusia-an” ini lebih merupakan suatu upaya menguasai manusia. Dalam nature-nya yang absurd dan terus berubah, manusia adalah entitas yang sulit untuk dikuasai, namun ketika dia telah masuk dalam suatu pendefinisian menetap (fixed definition), maka manusia akan lebih mudah dikuasai. Psikotes adalah salah satu fixed definition yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menguasai pihak lain. Keberdayaan psikotes dalam menciptakan fixed definition tak lepas dari legitimasi ilmu pengetahuan beserta aparatus-aparatusnya. Psikotes, melalui penyelenggaraan program profesi psikologi oleh perguruan tinggi, telah ditempatkan sebagai kebenaran mutlak. Ilmu pengetahuan, pada titik ini telah berubah ke arah dogmatisme, karena orang menerima begitu saja tanpa memberikan cermatan lebih jauh pada hasil psikotes. Kesalingterkaitan antara kekuasaan dan pengetahuan ditandai Foucault dengan garis miring (/) yang ditempatkan di antara Kekuasaan (power) dan Pengetahuan (knowledge).<br />
Kemanusiawian yang Hilang<br />
Foucault menjelaskan bahwa kita disosialisasi ke dalam seperangkat praktik diskursif yang berupa struktur pemaknaan. Tetapi ini bukan struktur yang bersifat menetap atau tak bisa diubah. Manusia adalah agen yang memediasi struktur ini. Dengan demikian kelanggengan struktur ini sangat tergantung pada bagaimana penerimaan manusia. Dalam kaitan dengan psikotes, semakin kita menerima dan menempatkan hasilnya sebagai kebenaran, maka kita akan semakin terkuasai oleh struktur itu. Lebih jauh, kita akan semakin terasing dari kemanusiawian kita.<br />
Kemapanan Psikotes sebagai kebenaran, memang tak lepas dari budaya dan ideologi yang berkembang di masyarakat. Psikotes, bisa jadi telah menjadi bagian dari budaya populer yang menyimbolkan modernitas. Sebuah ideologi dalam dunia sumber daya manusia yang dianut oleh orang-orang yang memerlukan pembenar semu dalam keputusannya. Pada titik ini, saya jadi teringat Antonio Gramsci yang menjelaskan bahwa budaya dan ideologi menciptakan makna tetapi makna ini secara konstan diperjuangkan melampaui struktur yang dimediasi oleh manusia sebagai agen. Ini lebih jauh dijelaskan dalam konsep mengenai hegemoni, di mana manusia tertaklukkan secara moral dan intelektual karena berbagai dalil yang tidak dicermati secara kritis. Orang percaya begitu saja bahwa mereka yang bergelar psikolog atau master dalam psikologi, adalah para “ahli” yang dapat menginterpretasi secara presisi kemanusiawian orang lain. Kita mungkin lupa bahwa kemanusiawian kita tak akan pernah bisa diinterpretasi atau ditaksonomi. Manusia justru bertumbuh dalam ketidakpastiannya, karena dalam ketidakpastian itulah terbetik harapan.<br />
Jacques Derrida menjelaskan bahwa makna tak pernah menetap, dia secara konstan berubah. Makna tergantung manusia sebagai agen yang mengoperasikannya. Demikian pula dengan psikotes, dia bukan sebuah pemaknaan menetap akan manusia. Pemaknaannya akan sangat tergantung keterkaitannya dengan berbagai hal lain yang juga terus berubah (sinkronik) dan perubahan yang terjadi sepanjang rentang waktu (diakronik). Psikotes adalah salah satu upaya pencarian melalui proses pemaknaan. Sayang, dalam perkembangannya, orang banyak menetapkan sebagai acuan harga mati atau pemaknaan yang bersifat menetap. Psikotes bahkan berubah menjadi stigmatisasi ketika ditemukan interpretasi psikologis yang menyatakan bahwa seseorang menyimpang.<br />
Manusia adalah entitas yang tak pernah memiliki pemaknaan menetap. Dia hidup dalam absurditas dan pergerakan pencarian diri, justru dalam absurditas dan pencarian inilah manusia menemukan kemanusiawiannya. Biarlah manusia tumbuh dalam absurditasnya, seperti Sisifus yang justru menemukan kebahagiaannya ketika dia dihukum oleh dewa untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung; dan mengulanginya lagi karena setiap sampai ke puncak batu itu kembali menggelinding ke bawah. Seluruh kebahagiaan bisu Sisifus terletak pada proses ini, karena dengan demikian nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd, ketika ia merenungi kehidupan dengan segala ketidakpastian serta tanggung jawab hidup atas talenta yang dianugerahkan semesta padanya, ia berkemampuan untuk membuat semua [patung] berhala psikotes membisu.<br />
Tulisan ini tak hendak mendiskreditkan psikotes maupun pihak-pihak yang menggunakan atau mengoperasikannya. Tak pula hendak merendahkan mereka yang memiliki lisensi menginterpretasi, karena saya tahu sebagian dari mereka memang handal dan kompeten. Hal esensial yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita mencermati hal-hal di balik psikotes dan implikasi-implikasinya. Bagaimana anda menerima dan sejauh mana anda mempercayai psikotes, semua tetap merupakan pilihan bebas anda sebagai manusia.<br />
Bagaimana cermatan anda?</span></p>
<p><a href="http://psiko-indonesia.blogspot.com/2006/10/psikotes-kebenaran-kekuasaan.html" target="_blank">sumber</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=20&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/psikotes-kebenaran-kekuasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://detik4.files.wordpress.com/2008/04/naskah.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bapak Psikologi Indonesia</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/slamet-iman-santoso-1907-2004-bapak-psikologi-indonesia/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/slamet-iman-santoso-1907-2004-bapak-psikologi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 06:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang meninggal dalam usia 97 tahun, Selasa 9 November 2004 dini hari pukul 00.30, ini tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia. Patutlah dia digelari Bapak Psikologi Indonesia. Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907, ini juga ikut mendirikan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=19&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4180/1880/1600/slamet.jpg" alt="" width="78" height="103" />Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang meninggal dalam usia 97 tahun, Selasa 9 November 2004 dini hari pukul 00.30, ini tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia. Patutlah dia digelari Bapak Psikologi Indonesia. Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907, ini juga ikut mendirikan beberapa universitas.Pria yang senang berpakaian putih-putih ini dikenal jujur, jernih, tegas dan konsisten. Prinsip hidupnya tak pernah berubah sampai akhir hayatnya.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p><span class="fullpost">Penerima Bintang Mahaputra Utama III (1973) ini, menurut puteranya Dr Oerip Setiono, meninggal setelah tiga tahun terakhir terbaring di rumah kediamannya, Jl Cimandiri 26, Jakarta Pusat. Jenazahnya dimakamkan di TPU Menteng Pulo setelah sebelumnya disemayamkan di aula FKUI Salemba, Jakarta. Dia meninggalkan tujuh anak, 13 cucu dan delapan buyut. Isterinya, Suprapti Sutejo, sudah terlebih dahulu meninggal pada November 1983.Penerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978, ini selain sebagai perintis dan pendiri Fakultas Psikologi UI juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin. Motivasi mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938), ini merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater. Dalam bidang profesi kedokteran, dia menerima penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989. Sebagai seorang ahli psikologi, tahun 1961, dia memimpin sekitar lima puluh mahasiswa Fakultas Psikologi UI, mengunjungi penduduk yang terkena gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan dan dipindahkan ke daerah Tebet dan Penjaringan. Mereka berdialog dengan penduduk tergusur itu. Kunjungan ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat).Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan dalam lingkungan FKUI), seperti sudah terlupakan. Saat itu, kata Slamet dalam pidato ketika menerima penghargaan bintang jasa Mahaputra Utama III (1973), dia merasa ibarat seorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi pasir yang gersang tanpa pedoman untuk melintasinya sambil mengajak saudara-saudara mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini. Conny Semiawan, mantan rektor IKIP Jakarta yang juga murid dan sempat menjadi asisten Slamet Iman dalam menguji mahasiswa, mengenang Slamet sebagai orang yang sangat tertib, teliti dan juga memiliki wawasan yang sangat luas, selalu berfikir filosofis meskipun bukan ahli filsafat. Dalam menguji mahasiswa, Slamet selalu menegaskan jangan menanyakan apa yang kamu ketahui, tetapi usahakan untuk bertanya apa yang dipahami mahasiswa. Dengan demikian dialog akan terjadi dan mahasiswa dapat mengaktualisasikan dirinya.Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah tokoh pendidikan yang berani. Dia adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang dia lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan. Dia juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Dia membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.Dia juga mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN. Ketika itu (1979-1980), Slamet menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Saat itu terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800 mahasiswa tapi jumlah pendaftar 4000 orang. Maka melalui komite yang diketuainya dibentuklah satu sistempenerimaan calon mahasiswa yang sejak 1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian kali berubah mulai dari Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pria yang dikenal terus terang dan sempat menjadi Penjabat Rektor UI, ini meskipun sudah mengakhiri jabatan sebagai Ketua Komisi Pembaruan Sistem Pendidikan, 1980, ia masih sempat mengurusi penerimaan calon mahasiswa pada tahun 1981. Sudah sangat banyak tokoh pendidikan bekas murid Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1950-1953) serta mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. Di antaranya, Conny Semiawan, Fuad Hassan, Sujudi, Wardiman Djojonegoro, Mahar Mardjono dan Saparinah Sadli. Para mantan mahasiswanya ini sangat menghormati dan mengagumi gurunya ini. Mereka mengenangnya sebagai guru yang sangat akrab dan suka menularkan pengalaman. Salah satu ucapannya dalam acara peringatan 100 tahun Albert Einstein di ruang Rektorat UI, 1979: &#8221;Ciri orang pandai, hal yang ruwet bisa disederhanakan, sebaliknya orang bodoh akan meruwetkan soal sederhana.&#8221; Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973), ini juga penulis terkemuka. Dia sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis buku. Di antara bukunya yang terkenal adalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta (1977); The Social Background For Psychotheraphy in Indonesia; Psychiatry dan Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa; School Health in the Community; Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber Kesehatan; Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas Dasar Teknik dan Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan; dan Pendidikan Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan oleh CV Haji Masagung, Jakarta, 1987. Sebagai dokter ahli penyakit saraf dan jiwa, dia memasang iklan menutup praktek untuk selamanya, 1 Januari 1979. Dia menyadari dirinya sudah tua. Dia pun mengaku sudah capek. Lahir TerbungkusPemberian namanya, Slamet Iman santoso, terkait dengan proses kelahirannya. Dia dilahirkan dalam keadaan terbungkus ari-ari. Ketika itu, semua penduduk desa heran dan membicarakannya. Dia dianggap sebagai bayi ajaib. Dipercaya bayi yang lahir terbungkus ari-ari itu kelak akan mempunyai kelebihan. Sangat jarang kelahiran bayi terbungkus.Saat bayi terbungkus itu lahir, orang-orang yang melihatnya heran dan bertanya: &#8220;Mana bayinya, mana bayinya?&#8221; Untunglah tidak semua penduduk desa panic terheran-heran. Seorang tetangga, Nyonya Tambi, isteri seorang petani Indo, membantu membukakan bungkus ari-ari yang membungkusnya. Bayi itupun menangis dan lahir dengan selamat. Maka kata selamat (menjadi Slamet) dijadikan nama jabang bayi yang baru lahir itu. Dia memang terlahir dari keluarga berpendidikan pada zamannya. Ayahnya seorang Asisten Wedana Banjaran. Di bawah pengasuhan ayahnya, Slamet menikmati masa kecilnya dengan penanaman nilai-nilai keramahan, saling tolong-menolong dan gotong-royong. Dia pun berulangkali, kepada banyak orang, mengisahkan berbagai pengalaman masa kecil yang yang amat berkesan baginya. Salah satu pengalaman itu adalah ketika di suatu saat dia dan anak lain sedang sibuk mencari ucen-ucen, buah tanaman liar yang sangat manis dan biru warnanya. Eh, tiba-tiba Slamet terpeleset, hampir masuk selokan irigasi. Namun dia beruntung, karena anjing Pak Lurah melompat antara Slamet dan tebing selokan tadi, sehingga dia tertolong. Dia dan kawan-kawanya menceriterakan peristiwa itu kepada Ayah-Ibu Slamet. Sang Ayah dengan spontan mengharuskannya memberi makan si Macan (nama anjing tadi Pak Lurah) itu. Masa kecil dan remaja anak sulung dari dua bersaudara ini sangat bahagia. Ia ikut kakeknya di Magelang, Jawa Tengah. Saking nakalnya, dia dijuluki teman-temannya &#8217;setan alas&#8217;. &#8221;Saya senang main ketapel, berburu anjing dan burung,&#8221; katanya, sebagaimana dikutip dalam Buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986. Bahkan mengaku sekali-kali mengganggu orang. Namun masa kecil dan remajanya diisi dengan mengecap pendidikan pada jaman kolonial Belanda di Magelang, mulai dari Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch Inlandsche School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO (1920-1923). Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta (1923-1926); Indische Arts, Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).Dia pun terkesan sangat mengagungkan pendidikan masa kolonial Belanda itu. Walaupun dia menyadari kondisi pendidikan ketika itu sangat berbeda disbanding setelah Indonesia merdeka. Dia mengenang, pada zamannya bersekolah dulu, sangat diasakan betapa guru sangat begitu memperhatikan murid dan bersatu dengan orang tua murid. Hal yang sudah jarang terjadi saat ini. Masuknya Jepang, menurutnya, memberi andil atas awut-awutannya pendidikan di negeri ini. Terasa sekali suasana pendidikan zaman Belanda yang terkesan akrabnya hubungan orang tua-murid-guru, tiba-tiba hilang lenyap, diganti dengan jaman pendidikan Jepang yang mulai awut-awutan. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung sampai sekarang. Dia memberi beberapa bukti. Di antaranya, sekarang ada guru yang mengasih tahu bahan ujian yang akan diuji kepada murid.AbumawasProfesor emeritus Fakultas Psikologi UI ini juga dikenal sebagi tokoh yang jahil dan sering dinilai aneh. Dia sendiri mengibaratkan diri sebagai Abunawas. Karena, menurutnya, Abunawas itu tokoh penuh akal. Jiwa Abunawas itu pun banyak menyemangati hidupnya.Dalam buku, Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986, diceritakan sekali waktu dia melihat mobil seorang pejabat UI diparkir salah dengan posisi miring di halaman kampus UI. Ia mengambil kertas dan menulisnya dengan spidol: &#8220;Barangsiapa yang parkir mobil miring, otaknya juga miring&#8221;. Ketika Bung Karno menanyakan pendapatnya mengenai semboyan &#8220;Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit&#8221;, Slamet dengan tenang menjawab &#8220;Nggak, malah saya gantungkan di cantelan baju. Kalau usang kan bisa diganti.&#8221;Suatu ketika, dia menyatakan terheran-heran karena ada orang yang dipinjami buku, mengembalikan buku itu dengan utuh. &#8220;Baru sekarang saya temukan orang yang saya pinjami buku mengembalikannya dengan utuh,&#8221; katanya. Dia bilang, hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang lain, dan orang yang mengembalikan buku pinjaman pun adalah orang gila.Hidupnya yang selalu ceria diwarnai canda memberi andil besar atas usianya yang lanjut (97 tahun). Padahal dia tak senang olah raga, termasuk olah raga pagi. Becanda, dia bilang: &#8221;Pagi-pagi itu &#8216;kan hawanya segar. Kok dipakai buat berkeringat, lebih baik dipakai untuk tidur.&#8221;</span></p>
<p>Sumber : www.tokohindonesia.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=19&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/slamet-iman-santoso-1907-2004-bapak-psikologi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos1.blogger.com/blogger/4180/1880/1600/slamet.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fobia Sekolah</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/fobia-sekolah/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/fobia-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 06:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[ Aku nggak mau sekolah&#8230;.pokoknya enggaaaaak !!! hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja..!
Perutku sakit, Maaaa&#8230;.aku nggak enak badan&#8230;jadi hari ini aku boleh nggak usah masuk sekolah, yaaaa..!
Adek mau main di rumah saja, Ma&#8230;.please&#8230;..Adek takut sama Bu Guru&#8230;soalnya Bu Guru galak sekali, Adek takut dimarahi sama Bu Guru&#8230;..boleh ya Ma&#8230;.boleh ya&#8230;..
Pokoknya aku nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=18&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.jawaban.com/images/images_keluarga/2005/phobia1.jpg" alt="" width="74" height="72" /> Aku nggak mau sekolah&#8230;.pokoknya enggaaaaak !!! hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja..!</p>
<p>Perutku sakit, Maaaa&#8230;.aku nggak enak badan&#8230;jadi hari ini aku boleh nggak usah masuk sekolah, yaaaa..!</p>
<p>Adek mau main di rumah saja, Ma&#8230;.please&#8230;..Adek takut sama Bu Guru&#8230;soalnya Bu Guru galak sekali, Adek takut dimarahi sama Bu Guru&#8230;..boleh ya Ma&#8230;.boleh ya&#8230;..</p>
<p>Pokoknya aku nggak mau  ke sekolah&#8230;aku nggak suka sekolah&#8230;.aku mau di rumah ajaaaa !!</p>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p><span class="fullpost"> Kalimat-kalimat diatas mungkin tidak asing di telinga kita ketika menghadapi anak yang tiba-tiba mogok sekolah. Beberapa alasan tersebut memang seringkali dikemukakan oleh anak-anak ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah. Tidak jarang orangtua hanya bisa terdiam dan termenung bahkan bingung ketika mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh anak tercintanya.</span></p>
<p>Banyak orangtua yang bingung menghadapi perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dengan berbagai alasan, mulai dari sakit perut, sakit kepala, sakit kaki dan seribu alasan lainnya. Bagi orangtua yang anaknya masih kecil, pemogokkan ini tentu bikin pusing karena menimbulkan kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya dibuat-buat. Orangtua menjadi bingung: memaksa anak untuk tetap berangkat sekolah takut nanti anaknya menjadi stress; atau kalau ternyata benar apa yang dikemukakan anak, lantas bagaimana harus bersikap? Sementara itu problem yang hampir sama dialami orangtua yang bingung menghadapi penolakan anaknya yang sudah waktunya bersekolah tapi masih saja belum mau masuk sekolah.</p>
<p>Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang. Dalam artikel ini saya mencoba untuk mengulas apa yang dimaksud dengan fobia sekolah (mogok atau tidak mau ke sekolah), apa faktor penyebabnya dan bagaimana orangtua harus menyiasati kondisi ini.</p>
<p>Apakah Fobia Sekolah?</p>
<p>Fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, atau hari Minggu / libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.</p>
<p>Tingkatan dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah</p>
<p>Para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu :</p>
<p><strong> 1. Initial school refusal behavior </strong></p>
<p>adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan.</p>
<p><strong> 2. Substantial school refusal behavior </strong></p>
<p>adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.</p>
<p><strong> 3. Acute school refusal behavior </strong></p>
<p>adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah</p>
<p><strong> 4. Chronic school refusal behavior </strong></p>
<p>adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu.</p>
<p><em><strong> Tanda-tanda Fobia Sekolah </strong></em></p>
<p>Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria fobia sekolah atau pun school refusal, yaitu:</p>
<p>Menolak untuk berangkat ke sekolah.</p>
<p>Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang</p>
<p>Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan mama/papa atau pengasuhnya, atau menunjukkan “tantrum”-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya.</p>
<p>Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang – dan ini berlangsung selama periode tertentu.</p>
<p>Tidak masuk sekolah selama beberapa hari.</p>
<p>Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.</p>
<p>Mengemukakan keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah.</p>
<p>Waktu Berlangsungnya Fobia Sekolah</p>
<p>Berapa lama waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung pada penanganan yang dilakukan oleh orangtua. Makin lama anak dibiarkan tidak masuk sekolah (tidak mendapat penanganan apapun), makin lama problem itu akan selesai dan makin sering / intens keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2 minggu.</p>
<p>Faktor Penyebab</p>
<p>Ada beberapa penyebab yang membuat anak seringkali menjadi mogok sekolah. orangtua perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi sikap pemogokan itu, agar dapat memberikan penanganan yang benar-benar tepat. Alangkah baiknya, jika orangtua mau bersikap terbuka dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang bisa terjadi. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing dengan sesama orangtua murid, diskusi dengan anak, konsultasi dengan konselor/psikolog, (kalau perlu) memeriksakan anak ke paramedis/dokter sesuai keluhan yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri – adalah metode yang tepat untuk mendapatkan gambaran penyebab dari fobia sekolah anak. Berhati-hatilah untuk membuat diagnosa secara subyektif, didasarkan pada pendapat pribadi diri sendiri atau keluhan anak semata. Di bawah ini ada beberapa penyebab fobia sekolah dan school refusal :</p>
<p><strong> 1. Separation Anxiety </strong></p>
<p>Separation anxiety pada umumnya dialami anak-anak kecil usia balita (18 – 24 bulan). Kecemasan itu sebenarnya adalah fenomena yang normal. Anak yang lebih besar pun (preschooler, TK hingga awal SD) tidak luput dari separation anxiety. Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun mainannya – tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan, pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di luar rumah.</p>
<p>Separation anxiety bisa saja dialami anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis, hangat dan akrab yang amat dekat hubungannya dengan orangtua – singkat kata, tidak ada masalah dengan orangtua. Orangtua mereka adalah orangtua yang baik dan peduli pada anak, dan mempunyai kelekatan yang baik. Namun tetap saja anak cemas pada saat sekolah tiba. Tanpa orangtua pahami, anak-anak sering mencemaskan orangtuanya. Mereka takut kalau-kalau orangtua mereka diculik, atau diserang monster atau mengalami kecelakaan sementara mereka tidak berada di dekat orangtua. Ketakutan itu tidak dibuat-buat, namun merupakan fenomena yang biasa hinggap pada anak-anak usia batita dan balita. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin berpisah dari orangtua dan malah lengket-nempel terus pada mama-papanya. Peningkatan kecemasan menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh mereka, dan ini lah yang sering dikeluhkan (perut sakit, mual, pusing, dsb). Sejalan dengan perkembangan kognisi anak, ketakutan dan kecemasan yang bersifat irrasional itu akan memudar dengan sendirinya karena anak mulai bisa berpikir logis dan realistis.</p>
<p>Separation anxiety bisa muncul kala anak selesai menjalani masa liburan panjang atau pun mengalami sakit serius hingga tidak bisa masuk sekolah dalam jangka waktu yang panjang. Selama di rumah atau liburan, kuantitas kedekatan dan interaksi antara orangtua dengan anak tentu saja lebih tinggi dari pada ketika masa sekolah. Situasi demikian, sudah tentu membuat anak nyaman dan aman. Pada waktu sekolah tiba, anak harus menghadapi ketidakpastian yang menimbulkan rasa cemas dan takut. Namun, dengan berjalannya waktu, anak yang memiliki rasa percaya diri, dapat perlahan-lahan beradaptasi dengan situasi sekolah.</p>
<p>Peneliti berpendapat, anak yang mempunyai rasa percaya diri yang rendah, berpotensi menjadi anak yang anxiety prone-children (anak yang memiliki kecenderungan mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi. Banyak orangtua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan. Contohnya, sikap orangtua yang overprotective terhadap anak hingga tidak menumbuhkan rasa percaya diri keberanian dan kemandirian. Anak tidak pernah diperbolehkan, dibiarkan atau didorong untuk berani mandiri. Orangtua takut kalau-kalau anaknya kelelahan, terluka, jatuh, tersesat, sakit, dan berbagai alasan lainnya. Anak selalu berada dalam proteksi, pelayanan dan pengawalan melekat dari orangtua. Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi anak manja, selalu tergantung pada pelayanan dan bantuan orangtua, penakut, cengeng, dan tidak mampu memecahkan persoalannya sendiri. Banyak orangtua yang tanpa sadar membuat pola ketergantungan ini berlangsung terus-menerus agar mereka merasa selalu dibutuhkan (berarti, berguna) dan sekaligus menjadikan anak sebagai teman “abadi”. Padahal, dibalik ketergantungan sang anak terhadap orangtua, tersimpan kebutuhan dan ketergantungan orangtua pada “pengakuan” sang anak. Akibatnya, keduanya tidak dapat memisahkan diri saat anak harus mandiri dan sulit bertumbuh menjadi individu yang dewasa.</p>
<p><strong> 2. Pengalaman Negatif di Sekolah atau Lingkungan </strong></p>
<p>Mungkin saja anak menolak ke sekolah karena dirinya kesal, takut dan malu setelah mendapat cemoohan, ejekan atau pun di”ganggu” teman-temannya di sekolah. Atau anak merasa malu karena tidak cantik, tidak kaya, gendut, kurus, hitam, atau takut gagal dan mendapat nilai buruk di sekolah. Di samping itu, persepsi terhadap keberadaan guru yang galak, pilih kasih, atau “seram” membuat anak jadi takut dan cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya. Atau, ada hal lain yang membuatnya cemas, seperti mobil jemputan yang tidak nyaman karena ngebut, perjalanan yang panjang dan melelahkan, takut pergi sendiri ke sekolah, takut sekolah setelah mendengar cerita seram di sekolah, takut menyeberang jalan, takut bertemu seseorang yang “menyeramkan” di perjalanan, takut diperas oleh kawanan anak nakal, atau takut melewati jalan yang sepi. Para ahli mengatakan, bahwa masalah-masalah tersebut sudah dapat menimbulkan stress dan kecemasan yang membuat anak menjadi moody, tegang, resah, dan mulai merengek tidak mau sekolah, ketika mulai mendekati waktu keberangkatan.</p>
<p>Masalahnya, tidak semua anak bisa menceritakan ketakutannya itu karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami, mengekspresikan dan memformulasikan perasaannya. Belum lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap alasannya itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan sibuknya orangtua, sementara anak-anak lebih banyak diurus oleh baby sitter atau mbak, makin membuat anak sulit menyalurkan perasaannya; dan akhirnya yang tampak adalah mogok sekolah, agresif, pemurung, kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik, dan tanda-tanda lain seperti yang telah disebutkan di atas</p>
<p><strong> 3. Problem Dalam Keluarga </strong></p>
<p>Penolakan terhadap sekolah bisa disebabkan oleh problem yang sedang dialami oleh orangtua atau pun keluarga secara keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar atau bahkan melihat pertengkaran yang terjadi antara papa-mamanya, tentu menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi belajar. Anak merasa ikut bertanggung jawab atas kesedihan yang dialami orangtuanya, dan ingin melindungi, entah mamanya – atau papanya. Sakitnya salah seorang anggota keluarga, entah orangtua atau kakak/adik, juga dapat membuat anak enggan pergi ke sekolah. Anak takut jika terjadi sesuatu dengan keluarganya yang sakit ketika ia tidak ada di rumah.</p>
<p><em><strong> Penanganan </strong></em></p>
<p>Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua dalam menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal.</p>
<p><strong> 1. Tetap menekankan pentingnya bersekolah </strong></p>
<p>Para ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari (the best therapy for school phobia is to be in school every day). Karena rasa takut harus diatasi dengan cara menghadapinya secara langsung. Menurut para ahli tersebut, keharusan untuk mau tidak mau setiap hari masuk sekolah, malah menjadi obat yang paling cepat mengatasi masalah fobia sekolah, karena lambat laun keluhannya akan makin berkurang hari demi hari. Makin lama dia “diijinkan” tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikannya lagi ke sekolah, dan bahkan keluhannya akan makin intens dan meningkat. Selain itu, dengan mengijinkannya absen dari sekolah, anak akan makin ketinggalan pelajaran, serta makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya.</p>
<p>Kemungkinan besar anak akan coba-coba bernegosiasi dengan orangtua, untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya “luluh”, maka keesokkan harinya anak akan mengulang pola yang sama. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya dia di sekolah.</p>
<p><strong> 2. Berusahalah untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang tidak mau sekolah. </strong></p>
<p>Entah karena pusing mendengar suara anak atau karena amat mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua seringkali meluluskan permintaan anak. Tindakan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Jika ketika bangun pagi anak segar bugar dan bisa berlari-lari keliling rumah atau pun sarapan pagi dengan baik, namun pada saat mau berangkat sekolah, tiba-tiba mogok – maka sebaiknya orangtua tidak melayani sikap “negosiasi” anak dan langsung mengantarnya ke sekolah. Satu hal penting untuk diingat adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik (hanya mau sekolah jika diberi hadiah). Anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan terbiasa memanipulasi orangtua/lingkungannya. Anak jadi tahu bagaimana taktik atau strategi yang jitu dalam mengupayakan agar keinginannya terlaksana.</p>
<p>Jika sampai terlambat, anak tetap harus berangkat ke sekolah – kalau perlu ditemani/ diantar orangtua. Demikian juga jika sesampai di sekolah anak minta pulang, maka orangtua harus tegas dan bekerja sama dengan pihak guru untuk menenangkan anak agar akhirnya anak merasa nyaman kembali. Jika anak menjerit, menangis, ngamuk, marah-marah atau bertingkah laku aneh-aneh lainnya, orangtua hendaknya sabar. Ajaklah anak ke tempat yang tenang dan bicaralah baik-baik hingga kecemasan dan ketakutannya berkurang/hilang; dan sesudah itu bawalah anak kembali ke kelasnya. Situasi ini dialami secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung dari kemampuan orangtua menenangkan dan mendekatkan diri pada anak. Namun jika orangtua mengalami kesulitan dalam menghadapi sikap anaknya, mintalah bantuan pada guru atau sesama orangtua murid lainnya yang dikenal cukup dekat oleh anak. Terkadang, keberadaan mereka justru membuat anak lebih bisa mengendalikan diri.</p>
<p><strong> 3. Konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter </strong></p>
<p>Jika orangtua tidak yakin akan kesehatan anak, bawalah segera ke dokter untuk mendapatkan kepastian tentang ada/tidaknya problem kesehatan anak. orangtua tentu lebih peka terhadap keadaan anaknya setiap hari; perubahan sekecil apapun biasanya akan mudah dideteksi orangtua. Jadi, ketika anak mengeluhkan sesuatu pada tubuhnya (pusing, mual, dsb), orangtua dapat membawanya ke dokter yang buka praktek di pagi hari agar setelah itu anak tetap dapat kembali ke sekolah. Selain itu, dokter pun dapat membantu orangtua memberikan diagnosa, apakah keluhan anak merupakan pertanda dari adanya stress terhadap sekolah, atau kah karena penyakit lainnya yang perlu ditangani secara seksama</p>
<p><strong> 4. Bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah </strong></p>
<p>Pada umumnya para guru sudah biasa menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal (terutama guru-guru preschool hingga TK). Hampir setiap musim sekolah tiba, ada saja murid yang mogok sekolah atau menangis terus tidak mau ditinggal orangtuanya atau bahkan minta pulang. Orangtua bisa minta bantuan pihak guru atau pun school assistant untuk menenangkan anak dengan cara-cara seperti membawanya ke perpustakaan, mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang tenang, atau pada anak yang lebih besar, guru dapat mendiskusikan masalah yang sedang memberati anak. Guru yang bijaksana, tentu bersedia memberikan perhatian ekstra terhadap anak yang mogok untuk mengembalikan kestabilan emosi sambil membantu anak mengatasi persoalan yang dihadapi – yang membuatnya cemas, gelisah dan takut. Selain itu, berdiskusi dengan guru untuk meneliti faktor penyebab di sekolah (misalnya diejek teman, dipukul, dsb) adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap hari.</p>
<p><strong> 5. Luangkan waktu untuk berdiskusi/berbicara dengan anak </strong></p>
<p>Luangkan waktu yang intensif dan tidak tergesa-gesa untuk dapat mendiskusikan apa yang membuat anak takut, cemas atau enggan pergi ke sekolah. Hindarkan sikap mendesak atau bahkan tidak mempercayai kata-kata anak. Cara ini hanya akan membuat anak makin tertutup pada orangtua hingga masalahnya tidak bisa terbuka dan tuntas. Orangtua perlu menyatakan kesediaan untuk mendampingi dan membantu anak mengatasi kecemasannya terhadap sesuatu, termasuk jika masalah bersumber dari dalam rumah tangga sendiri. Orangtua perlu introspeksi diri dan kalau perlu merubah sikap demi memperbaiki keadaan dalam rumah tangga.</p>
<p>Orangtua pun dapat mengajarkan cara-cara atau strategi yang bisa anak gunakan dalam menghadapi situasi yang menakutkannya. Lebih baik membekali anak dengan strategi pemecahan masalah daripada mendorongnya untuk menghindari problem, karena anak akan makin tergantung pada orangtua, makin tidak percaya diri, makin penakut, dan tidak termotivasi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.</p>
<p><strong> 6. Lepaskan anak secara bertahap </strong></p>
<p>Pengalaman pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi anak, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan sebagaimana di rumah. Tidak heran banyak anak menangis sampai menjerit-jerit ketika diantar mamanya ke sekolah. Pada kasus seperti ini, orangtua perlu memberikan kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan baru-nya. Pada beberapa sekolah, orangtua/pengasuh diperbolehkan berada di dalam kelas hingga 1-2 minggu atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Lepaskan anak secara bertahap, misalnya pada hari-hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan lama kelamaan bergeser sedikit-demi sedikit di luar kelas namun masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika anak sudah bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru dan tampak “happy” dengan teman-temannya – maka sudah waktunya bagi orangtua untuk meninggalkannya di kelas dan sudah waktunya pula bagi orangtua untuk tidak lagi bersikap overprotective, demi menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan kemandirian.</p>
<p><strong> 7. Konsultasikan pada psikolog/konselor jika masalah terjadi berlarut-larut </strong></p>
<p>Jika anak tidak dapat mengatasi fobia sekolahnya hingga jangka waktu yang panjang, hal ini menandakan adanya problem psikologis yang perlu ditangani secara proporsional oleh ahlinya. Apalagi, jika fobia sekolah ini sampai mengakibatkan anak ketinggalan pelajaran, prestasinya menurun dan hambatan penyesuaian diri yang serius – maka secepat mungkin persoalan ini segera dituntaskan. Psikolog/konselor akan membantu menemukan pokok persoalan yang mendasari ketakutan, kecemasan anak, sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan oleh keluarga – namun justru timbul dari dalam keluarga sendiri (misalnya takut dapat nilai jelek karena takut dimarahi oleh papanya). Untuk itulah konselor/psikolog umumnya menghendaki keterlibatan secara aktif dari pihak orangtua dalam menangani masalah yang dihadapi anaknya. Jadi, orangtua pun harus belajar mengenali siapa dirinya dan menilai bagaimana perannya sebagai orangtua melalui masalah-masalah yang timbul dalam diri anak.</p>
<p>Jadi, persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang serius (kecuali ada masalah kesehatan serius). Namun jika dibiarkan berlarut-larut dapat benar-benar menjadi masalah serius. Semoga berguna. (jp)</p>
<p>Sumber:<a href="http://www.e-psikologi.com" target="_blank">e-psikologi</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=18&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/06/03/fobia-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.jawaban.com/images/images_keluarga/2005/phobia1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Brain Development</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/05/21/brain-development/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/05/21/brain-development/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 04:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[ Waktu adalah sehelai kertas kehidupan yang harus kita tulis dengan deretan kalimat kerja dan prestasi
Sungguh akan sangat terasa kehampaan yang luar biasa bila waktu yang kita lalui tdk diisi dengan kreasi
Kalimat kerja yang terputus atau bahkan mungkin kita biarkan waktu tersebut tanpa aktifitas yang bernilai

Bila saat ini kita berusia 35 tahun, seharusnya…..
Ada 35 jilid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=16&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://i149.photobucket.com/albums/s74/arifperdana/IMAGE12.jpg" alt="" width="143" height="108" /> Waktu adalah sehelai kertas kehidupan yang harus kita tulis dengan deretan kalimat kerja dan prestasi<br />
Sungguh akan sangat terasa kehampaan yang luar biasa bila waktu yang kita lalui tdk diisi dengan kreasi<br />
Kalimat kerja yang terputus atau bahkan mungkin kita biarkan waktu tersebut tanpa aktifitas yang bernilai</p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p>Bila saat ini kita berusia 35 tahun, seharusnya…..<br />
Ada 35 jilid kehidupan yang berjudul nama kita, dimana setiap jilid terdapat 12 bab, 365 halaman, dan 24 baris<br />
Kenyataanya, apakah baris-baris itu penuh dengan cerita yang menggelora ??? Kisah tentang semangat untuk terus memperbaiki diri, terus belajar, terus berkarya, terus berprestasi ataukah hanya deretan kisah tentang keluh kesah dan bermalas-malasan ???<br />
Ataukah mungkin… setiap lembarnya justru kosong tdk berisi tulisan apapun………..<br />
Lantas bagaimana kita akan berkata kepada para pembaca kehidupan kita bila setiap lembarnya penuh dengan kertas kosong ?????</p>
<p>Kita manusia …<br />
menyesali apa yang tidak kita miliki<br />
Dan tidak berterimakasih atas apa yang ada<br />
Kita selalu memasuki sisi gelap dan tragis dalam hidup kita<br />
Dan tidak melihat sisi terang eksistensi diri kita</p>
<p>Tahukah kita ….<br />
1. Setiap manusia memiliki potensi otak yang sama<br />
2. Otak manusia mampu menyimpan 100 milyar bit informasi (setara dengan 500 enslikopedi)<br />
3. Otak kita terdiri dari 1 triliun sel otak, setiap sel otak terdapat 100 triliun neuron dan 20.000 dendrit ( tempat menyimpan informasi)<br />
4. Otak dirancang sebagai mekanisme sukses, otak lebih mudah menyerap hal yang positif ketimbang yang bersifat negatif</p>
<p>Tapi kenapa………………………<br />
Banyak diantara kita yang merasa gagal !!!<br />
Apakah karena otak kita yang bodoh ????<br />
esali apa yang tidak kita miliki<br />
Dan tidak berterimakasih atas apa yang ada<br />
Kita selalu memasuki sisi gelap dan tragis dalam hidup kita<br />
Dan tidak melihat sisi terang eksistensi diri kita</p>
<p>Tidak ada otak yang bodoh ………………<br />
Yang ada hanya bagaimana kita……<br />
Memfungsikan otak kita secara optimal</p>
<p>Banyak kemampuan otak yang belum termanfaatkan secara optimal<br />
Dengan latihan yang tepat dan terarah, kemampuan otak dapat dirubah secara drastis dalam waktu yang relatf singkat</p>
<p>Namun pada akhirnya……………….<br />
Kemampuan otak sepenuhnya terletak pada kekuatan mental kita !!<br />
Ada atau tidaknya kemauan untuk melatih dan mencapai keberhasilan ………………<br />
Semuanya ada ditangan kita!!!<br />
Untuk menggunakannya atau mengabaikannya……</p>
<p>Sumber: <a href="http://arifperdana.wordpress.com/2008/03/26/brain-development/#more-276" target="_blank">arifperdana</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=16&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/05/21/brain-development/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i149.photobucket.com/albums/s74/arifperdana/IMAGE12.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bangkit Dari Keterpurukan</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/bangkit-dari-keterpurukan/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/bangkit-dari-keterpurukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 10:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[“Jika Anda mau menerima kegagalan dan belajar darinya, jika Anda mau menganggap kegagalan merupakan sebuah karunia yg tersembunyi dan bangkit kembali, maka Anda memiliki potensi menggunakan salah satu sumber kekuatan paling hebat untuk meraih kesuksesan.”
~ Joseph Sugarman

Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=15&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>“Jika Anda mau menerima kegagalan dan belajar darinya, jika Anda mau menganggap kegagalan merupakan sebuah karunia yg tersembunyi dan bangkit kembali, maka Anda memiliki potensi menggunakan salah satu sumber kekuatan paling hebat untuk meraih kesuksesan.”<br />
~ Joseph Sugarman</em></p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://photos-175.friendster.com/e1/photos/57/12/17142175/19236938336820m.jpg" alt="" width="102" height="95" />Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang-orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa saja menyeret kita dalam keterpurukan. Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya<br />
menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.</p>
<p>Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus diperbaiki, kembali menyusun dan melaksanakan rencana dengan lebih baik.<br />
&gt;<br />
“Remember the two benefits of failure. First, if you do fail, you learn what doesn’t work; and second, the failure gives you the opportunity to try new approach. – Ingatlah 2 keuntungan yang kita peroleh dari kegagalan. Yang pertama adalah mempelajari apa yang tidak berjalan dengan baik; dan kedua adalah menjadi kesempatan bagi kita untuk mencoba pendekatan baru,” kata Roger Van Oech.</p>
<p>Menurut Roger, tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali, Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, dan lain sebagainya, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.</p>
<p>Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:</p>
<p>1. Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan  mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.<br />
2. Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah  dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.<br />
3. Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka<br />
inginkan.</p>
<p>Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari<br />
keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras,<br />
dan mental yang kuat.</p>
<p>Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi. “Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fail. – Kejayaan tertinggi bukan karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita selalu bangkit lagi ketika gagal,” cetus Confucius.</p>
<p>Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat<br />
perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil<br />
maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan  semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus<br />
keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.</p>
<p>Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik. Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=15&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/bangkit-dari-keterpurukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-175.friendster.com/e1/photos/57/12/17142175/19236938336820m.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>10 Penyakit Mental</title>
		<link>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/10-penyakit-mental/</link>
		<comments>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/10-penyakit-mental/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabithamalino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bitha.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang memiliki motivasi untuk sukses tetapi sayangnya mereka belum juga mendapatkan apa yang mereaka harapkan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk menghadapinya tak lain kita harus tetap senatiasa bersyukur dan sabar sembari tetap berusaha untuk mencapai mimpi yang kita inginkan untuk menjadi sukses. Disamping itu kita juga perlu mengetahui tolok ukur sukses yang sesungguhnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=14&subd=bitha&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.sdmesa.edu/psychology/images/symbol.gif" alt="" width="101" height="101" />Banyak orang yang memiliki motivasi untuk sukses tetapi sayangnya mereka belum juga mendapatkan apa yang mereaka harapkan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk menghadapinya tak lain kita harus tetap senatiasa bersyukur dan sabar sembari tetap berusaha untuk mencapai mimpi yang kita inginkan untuk menjadi sukses. Disamping itu kita juga perlu mengetahui tolok ukur sukses yang sesungguhnya. Mulailah untuk menggunakan tolok ukur sukses dari internal diri kita, artinya sukses harus diukur dari diri kita sendiri dengan memiliki prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jika ini telah Kita terapkan insya Allah sinar kesuksesan telah mulai tampak dalam kehidupan kita. Jangan menggunakan tolok ukur sukses yang berasal dari eksternal diri kita, misalnya membandingkan antara kekayaan yang kita miliki dengan kekayaan orang lain, atau mengukur kesuksesan hanya dari satu sudut pandang. Baik itu kekayaan, jabatan dan status sosial.<br />
<span id="more-14"></span></p>
<p>Jika usaha ini masih juga belum berhasil mungkin ada sesuatu yang salah dalam diri kita dan mungkin juga faktor penghambat kesuksesan itu adalah penyakit mental yang kita miliki. Berikut ini adalah 10 penyakit mental yang menjadi penghambat tercapainya kesuksesan yang kita inginkan.<br />
&gt;<br />
<strong>1. Menyalahkan Orang Lain</strong></p>
<p>Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu “siapa” Bukan “apa” penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa” sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas.</p>
<p>Kekanak-kanakan. Kenapa ? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh,” Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”. Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.</p>
<p><strong>2. Menyalahkan Diri Sendiri</strong></p>
<p>Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Ini berbeda dengan MENGAKUI KESALAHAN. Anda pernah mengalaminya ? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. “Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dsb, Lha saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh”. Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa mencapai “improper guilty feeling”.</p>
<p>Jadi walau yang salah partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang “Saya kok yang memang salah, tidak mampu dsb”. Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap Wajar karena mereka punya sesuatu lebih yang kita tidak punya.</p>
<p><strong>3. Tidak Punya Tujuan (Cita-Cita)</strong></p>
<p>Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini : Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang:</p>
<p>“Nah tuh ada kelinci, kejar aja”. Dia kejar itu kelinci, wesss…., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain.</p>
<p>“Ah lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang”.<br />
“Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih”.</p>
<p>Kalau “GOAL” kita hanya untuk “FUN”, isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.</p>
<p><strong>4. Mempunyai Tujuan (Cita-Cita) tetapi Ngawur Dalam Mencapainya</strong></p>
<p>Biasanya dialami oleh orang yang tidak “teachable”. Goalnya salah, focus kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena<br />
pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya : Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan.</p>
<p><strong>5. Mengambil Jalan Pintas</strong></p>
<p>Keberhasilan tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa orang ke kesuksesan yang sebenarnya, real success, karena tidak mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, melakukan smesh 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba- tiba jadi juara bulu tangkis. Nggak ada ! Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk akal nggak tuh? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat.</p>
<p><strong>6. Mengambil Jalan Terlalu Panjang</strong></p>
<p>Analoginya begini : Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take- off, memerlukan kecepatan minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya Cuma ngabis-ngabisin avtur aja, muter-muter aja. Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan ?</p>
<p><strong>7. Mengabaikan hal-Hal Yang Kecil</strong></p>
<p>Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.</p>
<p><strong>8. Terlalu Cepat Menyerah<br />
</strong><br />
Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.</p>
<p><strong>9. Bayang_Bayang Masa Lalu</strong></p>
<p>Wah puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? Kita selalu penuh memori kan ? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi<br />
kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. “Waktu” itu maju kan ?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik ?? Nggak ada kan ?</p>
<p>Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.</p>
<p><strong>10. Menghipnotis Diri Dengan Kesuksesan Semu</strong></p>
<p>Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana lagi.Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah menyatakan: “Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar”. Itu saat yang paling berbahaya, karena orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong, terus takabur.</p>
<p>Sudah saatnya kita memperbaiki kehidupan kita. Kesempatan terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin maju.</p>
<p>Action may not always bring success, but there is no success without action.<br />
“Usaha dan tindakan tidak selalu menghasilkan keberhasilan/sukses, tetapi… Tidak ada keberhasilan dan sukses TANPA usaha dan tindakan.”<br />
(Greg Phillips- Benjamin Disraeli)</p>
<p>source : anonymous</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bitha.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bitha.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bitha.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bitha.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bitha.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bitha.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bitha.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bitha.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bitha.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bitha.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bitha.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bitha.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bitha.wordpress.com&blog=3704002&post=14&subd=bitha&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bitha.wordpress.com/2008/05/13/10-penyakit-mental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0189aa6a5c3098430d625033968adba1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">tabithamalino</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sdmesa.edu/psychology/images/symbol.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>